JavaScript Indonesia Channel
@indonesia_javascript
🚀 Sering merasa AI coding malah bikin kode jadi "spaghetti" dan menambah…
🚀 Sering merasa AI coding malah bikin kode jadi "spaghetti" dan menambah technical debt? Di era generative AI saat ini, kecepatan memproduksi kode sudah bukan lagi masalah utama. Tantangan terbesarnya bergeser pada orkestrasi dan arsitektur. Tanpa pagar pembatas (guardrails) yang jelas, AI hanya akan menebak-nebak dan berhalusinasi. Saya baru saja mempublikasikan tulisan terbaru di Medium yang membedah konsep SDLC 2.0 dan seni Vibe Coding. Sebagai studi kasus nyata, saya melakukan migrasi aplikasi referensi hukum Pancasila & UUD 1945 menjadi sebuah Progressive Web App (PWA). Menariknya, aplikasi ini dirancang tanpa framework raksasa—hanya Vanilla JS, Vite, Bootstrap, dan 7 file JSON statis—namun tetap memiliki fitur pencarian real-time yang berfungsi 100% secara offline! Semuanya dibangun dengan mengorkestrasi Custom AI Agents (Gemini, DeepSeek, Minimax) yang berperan layaknya tim Product Manager, Arsitek Sistem, hingga Eksekutor kode. Di artikel ini, saya membagikan bagaimana mengubah AI dari sekadar "mesin ketik cepat" menjadi rekan kerja yang disiplin dengan pendekatan Github Spec Kit. 📖 Baca artikel lengkapnya di sini: https://medium.com/kode-dan-kodean/vibe-coding-sdlc-2-0-membangun-aplikasi-web-pancasila-dan-uud-1945-dengan-menggunakan-custom-ai-b7e706034fbc 📱 Coba langsung aplikasinya (bisa diakses offline): https://gulajavaministudio.github.io/pancasila-uud-indonesia-1945/ 💻 Intip source code nya di GitHub: https://github.com/GulajavaMinistudio/pasal-pancasila-uud-1945 Bagaimana pengalaman teman-teman saat menggunakan AI untuk coding? Apakah lebih sering membantu atau malah bikin repot saat maintenance? Mari diskusi di kolom komentar! 👇 #SoftwareEngineering #VibeCoding #SDLC #WebDevelopment #PWA
Fresh margeleT snapshot · Indonesia · JavaScript Indonesia Channel · war · politics · ai. This page keeps context and source links for search engines and AI assistants.